Rakyatmardeka.com l- Aceh Timur — Bupati Aceh Timur akhirnya angkat bicara terkait video yang beredar luas di media sosial, yang disampaikan oleh seorang pria bernama Muhammad Alan. Dalam video tersebut, muncul tudingan adanya “penggerebekan” di dalam sebuah mobil berwarna oranye di kawasan Simpang Ulim.
Menanggapi hal itu, Bupati Aceh Timur memberikan klarifikasi tegas dan menyebut tuduhan tersebut sebagai rekayasa yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Menurut penjelasan Bupati, peristiwa tersebut terjadi saat Kabupaten Aceh Timur tengah dilanda banjir. Pada saat itu, ia bersama rombongan berangkat dari pendopo sekitar pukul 02.30 dini hari menuju wilayah Desa Pantai Labu yang masih terisolir akibat banjir.
“Kami berangkat untuk menyalurkan bantuan sekaligus membawa tenaga medis ke lokasi terdampak. Dalam rombongan itu ada sekitar 15 kendaraan, termasuk ambulans dari Puskesmas Pantai Bidari yang membawa obat-obatan,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam setiap kunjungan ke wilayah terdampak bencana, tenaga medis memang selalu dilibatkan untuk memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat. Namun karena keterbatasan kapasitas ambulans, sebagian tenaga medis harus diangkut menggunakan kendaraan lain.
“Saat itu pihak puskesmas meminta agar beberapa tenaga medis bisa menumpang di kendaraan saya. Saya izinkan. Di dalam mobil itu bukan hanya satu orang, tapi empat orang, bahkan bagian belakang juga penuh,” tegasnya.
Bupati juga menyebutkan bahwa sejumlah saksi turut berada di lokasi dan mengetahui kejadian tersebut secara langsung. Di antaranya adalah Erik, Jala, Nazar, dan Bang Din Laut.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa salah satu penumpang dalam mobil tersebut masih memiliki hubungan keluarga, yakni sepupu dari Muhammad Alan.
“Apakah mungkin dalam kondisi seperti itu, dengan adanya sepupu yang bersangkutan di dalam mobil, terjadi hal yang tidak wajar? Itu sangat tidak masuk akal,” ujarnya.
Rombongan kemudian berhenti di depan sebuah masjid di kawasan Simpang Ulim untuk menurunkan penumpang sebelum melanjutkan perjalanan. Tidak lama setelah itu, muncul seorang pria yang belakangan diketahui sebagai mantan suami dari salah satu penumpang.
“Di situlah awal mula kesalahpahaman ini terjadi. Narasi ‘penggerebekan’ yang disampaikan sangat jauh dari kenyataan,” lanjutnya.
Bupati dengan tegas membantah seluruh tuduhan yang beredar dan menyebutnya sebagai fitnah besar yang mencoreng nama baiknya serta mengganggu kerja kemanusiaan yang sedang dilakukan.
“Atas tuduhan yang tidak berdasar ini, kami akan menempuh jalur hukum. Ini bukan hanya merugikan secara pribadi, tetapi juga merusak kepercayaan publik,” tegasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya, serta mengedepankan klarifikasi sebelum menyebarkan isu yang dapat menimbulkan kegaduhan.
Kasus ini kini berpotensi berlanjut ke ranah hukum, seiring langkah yang akan diambil oleh pihak Bupati untuk meminta pertanggungjawaban atas tuduhan yang dinilai mencemarkan nama baik tersebut.
