Air Mata Haru di Bate Timoh: 5 Anak Yatim Akhirnya Punya Rumah Layak Berkat Kepedulian Bupati Bireuen

RakyatMardeka.com l- BIREUEN — Tangis haru pecah di Desa Bate Timoh, Kecamatan Jempa, Kabupaten Bireuen. Senin (6 -april -2026) Lima anak yatim yang selama ini hidup dalam keterbatasan, akhirnya bisa merasakan arti sebuah rumah yang layak huni. Impian yang selama ini hanya mereka pendam, kini menjadi nyata berkat kepedulian Bupati Bireuen, , yang membangun rumah tersebut menggunakan uang pribadinya.

Di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit, kelima anak yatim itu sebelumnya harus bertahan di tempat tinggal yang jauh dari kata layak. Dinding rapuh, atap bocor, dan lantai tanah menjadi saksi bisu perjuangan hidup mereka setiap hari. Bahkan saat hujan turun, mereka hanya bisa pasrah, berusaha bertahan di sudut rumah yang masih bisa melindungi dari dinginnya malam.

Namun takdir berkata lain. Kepedulian seorang pemimpin menyentuh hati mereka. Tanpa banyak sorotan, hadir membawa harapan baru. Ia memilih untuk turun langsung, membantu dengan tulus tanpa mengandalkan anggaran pemerintah, melainkan dari kantong pribadinya sendiri.

Kini, rumah sederhana namun kokoh berdiri tegak di Desa Bate Timoh. Bagi sebagian orang mungkin itu hanyalah bangunan biasa, tetapi bagi lima anak yatim tersebut, itu adalah surga kecil yang selama ini mereka impikan.

Tangis tak terbendung saat mereka pertama kali menginjakkan kaki ke dalam rumah baru itu. Mata berkaca-kaca, suara bergetar, bahkan ada yang hanya bisa diam memeluk dinding rumah sambil menangis. Rasa syukur dan haru menyatu dalam suasana yang begitu menyentuh hati.

“Dulu kami takut kalau hujan datang… sekarang kami sudah punya rumah,” ujar salah satu dari mereka dengan suara lirih, menahan tangis.

Kisah ini bukan sekadar tentang pembangunan rumah, tetapi tentang kemanusiaan, kepedulian, dan kehadiran seorang pemimpin di saat rakyatnya membutuhkan. Apa yang dilakukan menjadi bukti bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya soal jabatan, tetapi tentang hati dan keberpihakan.

Warga sekitar pun turut merasakan kebahagiaan yang sama. Mereka menyaksikan langsung bagaimana senyum dan air mata haru anak-anak itu menjadi saksi bahwa masih ada harapan di tengah kesulitan.

Di Desa Bate Timoh hari itu, bukan hanya rumah yang dibangun—tetapi juga masa depan, harapan, dan keyakinan bahwa kebaikan akan selalu menemukan jalannya. (Reza)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *