GEGER DI JANTUNG IBU KOTA! Gubernur Aceh Muzakir Manaf Murka — Pengeroyokan Brutal di Polda Metro Jaya Diduga “Dibiarkan”!

RakyatMardeka.com l- JAKARTA — Ledakan kemarahan datang dari Aceh. Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Muallem), mengecam keras dan tanpa kompromi aksi pengeroyokan brutal terhadap seorang warga asal Langsa yang justru terjadi di dalam markas Polda Metro Jaya—institusi yang seharusnya menjadi benteng terakhir perlindungan hukum.

Peristiwa ini bukan sekadar kriminal biasa. Ini tamparan telak bagi wibawa penegakan hukum di Indonesia.

Usai menjenguk korban di Jakarta Selatan, Muallem melontarkan pernyataan keras yang mengguncang.

“Atas nama rakyat Aceh, saya mengecam keras! Ini tidak bisa ditoleransi!” tegasnya, Senin (30/3/2026).

Yang membuat publik makin geram, insiden pengeroyokan itu terjadi di dalam kantor polisi, bahkan disebut berlangsung di hadapan aparat. Muallem pun mempertanyakan: apakah ini kelalaian fatal atau ada unsur pembiaran?

“Kantor polisi itu tempat perlindungan. Kalau kekerasan bisa terjadi di dalamnya, ini bukan lagi soal kecolongan—ini patut diduga ada pembiaran!” ujarnya tajam.

Tak berhenti di situ, Muallem secara terbuka mendesak Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Kapolri untuk turun tangan langsung dan mengusut tuntas kasus ini tanpa pandang bulu.

Ia menegaskan, bukan hanya pelaku lapangan yang harus ditangkap, tapi juga:

  • Aktor intelektual di balik pengerahan massa
  • Dugaan keterlibatan oknum aparat
  • Jaringan preman bayaran yang disebut beroperasi bebas

“Tangkap semua! Termasuk otak pelaku dan oknum aparat jika terbukti terlibat. Jangan ada yang dilindungi!” tegasnya.

INSIDEN MEMALUKAN — DI RUANG RESMI POLISI

Peristiwa mengejutkan ini terjadi pada Rabu (26/3/2026) di ruang RPK PPA Polda Metro Jaya. Korban FA, warga Langsa, saat itu tengah menjalani proses konfrontasi hukum bersama kuasa hukumnya.

Namun situasi berubah mencekam ketika lebih dari 20 orang yang diduga preman bayaran tiba-tiba menyerbu dan melakukan pengeroyokan brutal.

Yang lebih mencengangkan:

  • Aksi terjadi di ruang resmi kepolisian
  • Disebut berlangsung di depan aparat
  • Tidak ada pencegahan berarti saat kejadian

Korban mengalami luka di kepala dan tubuh hingga harus dilarikan ke rumah sakit di Jakarta Selatan.

KRISIS KEPERCAYAAN MULAI MENGANGA

Muallem memperingatkan, jika kasus ini tidak ditangani serius, dampaknya akan jauh lebih besar dari sekadar satu peristiwa kriminal.

Ini menyangkut kepercayaan publik terhadap institusi hukum.

“Kalau ini tidak dituntaskan, masyarakat—khususnya warga Aceh—akan kehilangan rasa aman, bahkan di kantor polisi sekalipun,” ujarnya.

Ia juga menyerukan kepada tokoh-tokoh Aceh di Jakarta untuk ikut mengawal kasus ini agar tidak “masuk angin” di tengah jalan.

TEKANAN PUBLIK MEMBESAR

Kasus ini kini menjadi sorotan luas dan berpotensi menjadi skandal besar jika fakta-fakta di lapangan menguatkan dugaan:

  • Pembiaran oleh aparat
  • Keterlibatan oknum internal
  • Sistem pengamanan yang bobrok

Publik kini menunggu:
Apakah hukum benar-benar ditegakkan, atau justru kembali tumpul ke atas?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *