
RakyatMerdeka.com | BIREUEN, 2 April 2026 — Apa sebenarnya yang sedang terjadi di balik proyek penahan tebing sungai di Teupin Mane, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen? Proyek bernilai besar ini kini tak hanya menuai sorotan karena dua kali ambruk saat dikerjakan, tetapi juga karena satu hal yang jauh lebih berbahaya: tidak jelas siapa pemilik proyek dan dari mana anggarannya berasal.
Di tengah proyek raksasa yang terus berjalan, publik justru disuguhi kekosongan informasi total. Tidak ada papan proyek yang transparan. Tidak ada penjelasan resmi. Tidak ada kejelasan apakah proyek ini berada di bawah Kementerian PUPR, Balai Wilayah Sungai (BWS), atau Kabalai Provinsi Aceh.
Ini bukan sekadar kelalaian administratif—ini sudah masuk kategori pembiaran yang mencurigakan.
Lebih ironis lagi, proyek yang berkali-kali menunjukkan tanda kegagalan ini tetap dipercayakan kepada kontraktor yang rekam jejaknya telah dipertanyakan publik. Bahkan di tengah situasi pasca bencana banjir besar tahun ini, perusahaan tersebut diduga justru menjadi “penguasa proyek”, mengerjakan hampir seluruh proyek strategis di wilayah terdampak.
Gagal tidak jadi penghalang. Justru seperti tiket untuk terus menang.
Pihak media ini telah mencoba mengonfirmasi langsung kepada Kabalai Aceh, Yusrizal, melalui WhatsApp pribadinya. Namun hingga detik ini, tidak ada jawaban, tidak ada klarifikasi, tidak ada tanggung jawab.
Sikap bungkam ini bukan lagi netral—melainkan isyarat kuat bahwa publik sedang dibiarkan dalam gelap.
Di lapangan, kondisi proyek tetap memprihatinkan. Struktur yang sudah dua kali ambruk masih terus dikerjakan seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Tidak ada evaluasi terbuka, tidak ada penghentian sementara, tidak ada jaminan keselamatan.
Warga hanya bisa menonton dengan rasa takut.
“Kami tidak tahu ini proyek siapa, uangnya dari mana. Yang kami tahu, kalau ini runtuh lagi, kami yang jadi korban,” ujar seorang warga dengan nada getir.
Kini pertanyaannya bukan lagi apakah proyek ini bermasalah—tetapi seberapa besar masalah yang sedang ditutup-tutupi.
Publik menuntut lebih dari sekadar klarifikasi:
- Buka siapa pemilik proyek ini!
- Jelaskan sumber anggarannya!
- Ungkap siapa yang bertanggung jawab atas kegagalan berulang!
Jika tidak, maka proyek ini layak disebut sebagai proyek tanpa wajah, tanpa tanggung jawab, dan tanpa rasa malu.
Dan jika pejabat terus memilih diam, maka diam itu sendiri akan dibaca sebagai bagian dari masalah.
Berapa kali harus ambruk, berapa lama harus bungkam, sebelum kebenaran benar-benar dibuka ke publik?
(Tim RakyatMerdeka)
