Rakyatmerdeka.com~ Tarumajaya , Bekasi – Pengembangan kawasan ekowisata Jembatan Cinta menjadi kawasan wisata bahari terpadu yang terintegrasi dengan pelabuhan perikanan, pelabuhan industri, dan sektor pariwisata, terkesan mengalami mati suri.
Pasalnya, kawasan Pusat Restorasi Pembelajaran Mangrove (PRPM) Kabupaten Bekasi yang lebih dikenal dengan ikon wisata Jembatan Cinta, kini berada dalam kondisi “hidup segan mati tak mau” akibat imbas persoalan yang sempat viral dengan istilah pagar laut.
Sebelumnya, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengembangkan kawasan wisata Jembatan Cinta. Mulai dari pengelolaan oleh Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) hingga berada di bawah naungan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa). Namun, wacana pengembangan kawasan tersebut kerap terganjal persoalan birokrasi dan perizinan.
Saat ini, kondisi di sepanjang trek Jembatan Cinta terlihat memprihatinkan. Banyak titik dan jalur yang mengalami kerusakan, patah, kropos, bahkan beberapa spot yang dibangun dari dana CSR perusahaan kondisinya hancur dan tidak lagi layak digunakan.
Meski demikian, teka-teki mengenai kelanjutan pembangunan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang terintegrasi dengan sektor pariwisata di Paljaya, Tarumajaya, mulai menemukan titik terang.
Kepala UPTD Pelabuhan Perikanan Muara Ciasem (PPCM) Provinsi Jawa Barat, Ahman Kurniawan, menegaskan bahwa rencana pembangunan TPI Paljaya telah mendapat restu dari Dedi Mulyadi.
Pernyataan tersebut disampaikan Ahman Kurniawan didampingi Plt Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bekasi, Maman Badruzaman, saat membuka kegiatan sosialisasi pembangunan TPI Paljaya Muaratawar di Desa Segarajaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, pada 21 Oktober 2025 lalu.
Saat ini, pembangunan tahap awal TPI disebut telah selesai dan akan dilanjutkan ke tahap berikutnya berupa pembangunan kolam labuh serta alur keluar masuk kapal nelayan.
Di tengah kondisi Jembatan Cinta yang belum sepenuhnya pulih, langkah berani ditunjukkan seorang warga bernama Partono. Bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pria yang akrab disapa Bang Tono itu mulai mengembangkan kawasan wisata ikan Sunge Rindu di Kampung Sembilangan.
Upaya tersebut dilakukan untuk menghidupkan kembali destinasi wisata hutan mangrove yang selama ini mati suri.
“Insya Allah peresmiannya nanti pada tanggal 19 April mendatang. Kami mencoba memadukan keindahan alam mangrove dengan pengalaman memancing ikan dan kuliner olahan khas Bekasi,” ujar Partono saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (3/4/2026).
Menurutnya, saat ini persiapan pembangunan lapak kuliner dan trek wisata sedang dimaksimalkan. Sejumlah artis ternama juga disebut akan dihadirkan untuk memeriahkan acara pembukaan.
“Yang terpenting kami akan melibatkan semua elemen agar mendapat dukungan, karena sepenuhnya ini untuk memaksimalkan manfaatnya bagi ekonomi masyarakat lokal,” jelasnya.
Bagi masyarakat yang ingin menikmati suasana alam mangrove sambil memancing dan berburu kuliner, tersedia perahu wisata dari kawasan Jembatan Cinta menuju Sunge Rindu dengan tarif sekitar Rp20 ribu per orang untuk perjalanan pulang pergi.
“Dijamin pengunjung akan menikmati pengalaman berperahu melintasi laut dangkal dan sungai hutan mangrove,” pungkasnya.(*/AyuM)
