TRAGIS! Bocah 3 Tahun Hanyut di Sungai — Jembatan Proyek PT Adhi Karya (Persero) Tbk Ambruk Sehari, Warga Dipaksa Bertaruh Nyawa

RakyatMardeka.com l- ACEH, BIREUEN — Duka mendalam bercampur kemarahan menyelimuti warga Dusun Bivak, Gampong Krueng Simpo, Kecamatan Juli. Seorang bocah, Muhammad Fadil (3), dilaporkan hilang terseret arus sungai deras, Selasa (31/3) malam, setelah terjatuh dari gerobak gantung darurat berbahan kabel sling—satu-satunya akses penyeberangan warga saat ini.

Peristiwa memilukan itu terjadi sekitar pukul 19.30 WIB. Korban bersama ibu dan kakeknya hendak pulang dari Salah Sirong, Kecamatan Jeumpa. Dalam kondisi gelap dan hujan deras, mereka nekat menyeberang menggunakan fasilitas darurat yang jauh dari standar keselamatan.

Nahas, pintu gerobak disebut tidak terkunci. Saat berada di tengah lintasan, pintu tiba-tiba terbuka. Dalam sekejap, tubuh kecil Fadil terlepas dari pelukan ibunya dan jatuh dari ketinggian, lalu langsung terseret arus sungai yang ganas.

“Pintu tidak terkunci, terbuka di tengah. Anak itu jatuh dan hanyut. Sampai sekarang masih dicari,” ujar seorang warga dengan nada pilu.

Tragedi ini membuka kembali luka lama yang sempat viral di publik. Jembatan darurat yang sebelumnya dibangun melalui proyek yang dikerjakan oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk dikabarkan ambruk hanya dalam waktu satu hari setelah selesai dibangun.

Kejadian tersebut sempat menuai sorotan luas karena dinilai mencerminkan buruknya kualitas pekerjaan. Namun hingga kini, belum ada solusi permanen yang benar-benar menjawab kebutuhan warga.

Akibatnya, masyarakat terpaksa kembali menggunakan gerobak kabel sling yang berisiko tinggi—bahkan untuk anak-anak.

“Sudah viral jembatan itu ambruk sehari. Tapi sampai sekarang kami masih pakai kabel ini. Sekarang anak jadi korban,” keluh warga

Sejak banjir besar 26 November 2025 merusak jembatan utama, Dusun Bivak praktis terisolasi. Aktivitas ekonomi lumpuh, akses kebutuhan pokok terhambat, dan warga harus mempertaruhkan nyawa setiap kali menyeberang.

Gerobak kabel sling yang digunakan saat ini hanyalah solusi darurat, tanpa pengamanan memadai. Kondisi ini dinilai sebagai bentuk pembiaran terhadap keselamatan masyarakat.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait, termasuk terkait kelanjutan proyek jembatan maupun tanggung jawab atas ambruknya konstruksi yang sempat dikerjakan.

Tim pencarian masih dilakukan secara manual oleh warga di tengah arus sungai yang deras dan medan yang sulit. Minimnya respons cepat dari pihak berwenang semakin memperkuat kekecewaan masyarakat

Hilangnya Muhammad Fadil bocah berusia 3 tahun bukan sekadar musibah, tetapi menjadi simbol kegagalan sistem dalam melindungi warganya. Infrastruktur yang tidak layak, proyek yang dipertanyakan, dan lambannya penanganan darurat kini menjadi sorotan tajam.

Satu proyek ambruk dalam sehari. Satu nyawa melayang di sungai. Berapa lagi yang harus jadi korban?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *