
RakyatMardeka.com – Jumat (13/Maret/2026) – Tuha Peut Gampong Kapa, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen menuding data korban banjir di desanya sarat rekayasa.
Hal itu diungkapkan oleh Petua Tuha Peut Gampong Kapa dalam video berdurasi hampir 7 menit.
Menurutnya, jumlah rumah rusak berat dan hilang pada saat banjir bandang akhir November 2025 lalu hanya tujuh unit.
“Hanya tujuh rumah yang benar-benar rusak berat di Kapa,” ungkapnya seraya meminta siapa pun yang menonton videonya untuk menyebarkannya.
Ia merincikan rumah-rumah di Gampong Kapa yang rusak berat, yaitu, rumah Jamilah, almarhum Nasir Kasem (jenazahnya belum ditemukan), Muhammad Amin, Budi Yanto, Teungku Ruslan, Hamli dan Munzir.
“Sementara nama-nama lain yang tercantum dalam daftar adalah hasil rekayasa,” tudingnya.
Petua Tuha Peut Gampong Kapa ini juga menyebut, saat tim verifikasi data turun ke lapangan, diminta untuk memotret bekas bangunan agar bisa dibangun rumah baru. “Padahal rumah yang dipoto itu bukan rusak karena banjir,” bebernya.
Dugaan rekayasa data korban banjir, lanjutnya telah dilaporkan kepada Camat Peusangan.
Camat pun meminta agar dibuatkan surat sanggahan resmi supaya kasus ini dapat diperiksa kembali oleh pihak perangkat desa dan Tuha Peut.
Dalam pesannya, ia memohon kepada Kapolres Bireuen untuk menurunkan tim investigasi agar kasus manipulasi data ini diusut tuntas.
Ia menegaskan, tindakan tersebut sangat tidak manusiawi karena memanfaatkan musibah banjir yang menimpa warga untuk keuntungan tertentu.
“Ini surat terbuka dari saya selaku Tuha Peut. Kami minta agar kasus manipulasi dan penipuan korban banjir di Gampong Kapa dapat ditindak sesuai hukum yang berlaku,” ujarnya.
Kasus ini diprediksi akan menimbulkan gejolak publik di Gampong Kapa dan sekitarnya, karena menyangkut kejujuran dan hak warga terdampak bencana. (Reza)
