
RakyatMardeka.com l – Aceh Isu penghapusan program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) memicu reaksi keras dari masyarakat di seluruh Aceh. Program yang selama ini menjadi “nafas” bagi rakyat kecil itu kini terancam hilang, dan publik pun mulai bersuara lantang.
Bagi banyak warga, JKA bukan sekadar program—melainkan harapan hidup. Dari pelosok desa hingga pusat kota, masyarakat menggantungkan akses berobat gratis melalui kebijakan yang selama ini menjadi kebanggaan daerah Tanah Rencong.
Namun kini, kabar penghapusan JKA bak petir di siang bolong.
“Kalau JKA dihapus, kami harus berobat pakai apa? Uang dari mana?” keluh seorang warga dengan nada penuh kecemasan.
Gelombang penolakan pun mulai bermunculan. Aktivis, tokoh masyarakat, hingga kalangan mahasiswa angkat suara. Mereka menilai, kebijakan ini berpotensi menjadi pukulan telak bagi rakyat kecil yang selama ini bergantung pada layanan kesehatan gratis.
Tak sedikit yang menuding, rencana ini menunjukkan lemahnya keberpihakan terhadap masyarakat miskin. Bahkan, muncul kekhawatiran bahwa penghapusan JKA akan memperlebar jurang kesenjangan sosial di Aceh.
Desakan pun menguat agar pemerintah tidak gegabah mengambil keputusan. Transparansi dan kejelasan nasib program JKA kini menjadi tuntutan utama publik.
Jika benar dihapus, maka ini bukan sekadar perubahan kebijakan—ini adalah krisis kepercayaan.
Masyarakat Aceh kini menunggu: apakah suara mereka akan didengar, atau justru diabaikan?
